Tes Observasi

Selasa, 20 Mei 2014

TES OBSERVASI
                 PENGERTIAN
Istilah observasi berasal dan bahasa Latin yang berarti ”melihat” dan “memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi menjadi bagian dalam penelitian berbagai disiplin ilmu, baik ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu sosial, Observasi dapat berlangsung dalam konteks laboratoriurn (experimental) maupun konteks alamiah.
Observasi yang berarti pengamatan bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu masalah, sehingga diperoleh pemahaman atau sebagai alat re-checkingin atau pembuktian terhadap informasi / keterangan yang diperoleh sebelumnya.Sebagai metode ilmiah observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan fenomena-fenomena yang diselidiki secara sistematik. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengamatan tidak langsung misalnya melalui questionnaire dan tes
Sebagai metode ilmiah observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan fenomena-fenomena yang diselidiki secara sistematik. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengamatan tidak langsung misalnya melalui questionnaire dan tes. Observasi dapat dilakukan sesaat ataupun mungkin dapat diulang. Oleh sebab itu observasi hendaknya dilakukan oleh orang yang tepat. Dalam observasi melibatkan dua komponen yaitu si pelaku observasi yang lebih dikenal sebagai observer dan objek yang di observasi yang dikenal sebagai observee. Jadi dapat disimpulkan bahwa Observasi atau pengamatan adalah suatu cara mengumpulkan data melalui pengamatan indrawi, dengan melakukan pencatatan terhadap gejala-gejala yang terjadi pada objek penelitian secara langsung di tempat penelitian.

Tujuan Observasi
Pada dasarnya observasi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian dilihat dan perspektif mereka terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus kuat, faktual, sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan. Observasi perlu dilakukan karena beberapa alasan, yaitu:
1.      Memungkinan untuk mengukur banyak perilaku yang tidak dapat diukur dengan menggunakan alat ukur psikologis yang lain (alat tes). Hal ini banyak terjadi pada anak-anak.
2.      Prosedur Testing Formal seringkali tidak ditanggapi serius oleh anak-anak sebagaimana orang dewasa, sehingga sering observasi menjadi metode pengukur utama.
3.      Observasi dirasakan lebih mudah daripada cara peugumpulan data yang lain. Pada anak-anak observasi menghasilkan informasi yang lebih akurat daripada orang dewasa. Sebab, orang dewasa akan memperlihatkan perilaku yang dibuat-buat bila merasa sedang diobservasi.

Bentuk-bentuk Observasi
            Berdasarkan pelaksanaan, observasi dapat dibagi dalam dua jenis, yaitu:
1. Observasi Partisipasi
Yaitu observasi yang melibatkan peneliti atau observer secara langsung dalam kegiatan pengamatan di lapangan. Jadi, peneliti bertindak sebagai observer, artinya peneliti merupakan bagian dari kelompok yang ditelitinya.
2. Observasi Nonpartisipasi
Adalah observasi yang dalam pelaksanaannya tidak melibatkan peneliti sebagai partisipasi atau kelompok yang diteliti. Cara ini banyak dilakukan pada saat ini.
            Berdasarkan keterlibatan penelitinya, observasi dibagi menjadi:
1.      Observasi Biasa
Pada observasi biasa, pengamat merupakan orang yang sepenuhnya melakukan pengamatan (complete observer). Ia tidak memiliki keterlibatan apapun dengan pelaku yang menjadi objek penelitian.
2.      Observasi Terkendali
Dalam pengamatan terkendali (controlled observation), pengamat juga sepenuhnya melakukan pengamatan. Ia tidak memiliki hubungan apapun dengan objek yang diamatinya. Akan tetapi, berbeda dengan pengamatan biasa, pada pengamatan terkendali orang yang menjadi sasaran penelitian ditempatkan dalam suatu ruangan yang dapat diamati oleh peneliti. Dalam lingkungan yang terbatas tersebut pengamat mengadakan berbagai percobaan atas diri para sasaran penelitian.
Pengamatan terkendali umumnya dikembangkan untuk meningkatkan ketepatan dalam melaporkan hasil pengamatan. Dan biasanya, banyak digunakan dalam penelitian yang mengkhususkan perhatian pada usaha mengetahui sebanyak mungkin sifat kelompok kecil.
3.      Observasi Terlibat (Participant Observation)
Merupakan jenis pengamatan yang paling sering digunakan dalam penelitian antropologi. Dalam istilah Jerman disebut verstehen, yaitu suatu metode yang memungkinkan terjadinya keterlibatan seorang peneliti pada masyarakat yang dijadikan  objek penelitiannya.
Berdasarkan tingkat keterlibatan penelitinya, observasi terlibat dibedakan:
Ø  Pengamat sepenuhnya terlibat (complete participation)
Pada pengamatan jenis ini, pengamat sepenuhnya terlibat sehingga pelaku yang menjadi objek penelitian tidak mengetahui bahwa mereka sedang diamati.
Ø  Pengamat berperan sebagai peserta (observer as participant)
Pada observasi jenis ini, keterlibatan pengamat dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan objek yang diteliti masih ada. Namun keterlibatan ini bersifat sangat terbatas, karena pengamat berada di tempat penelitian hanya untuk jangka waktu pendek. Disbanding pengamatan penuh, pengamatan jenis ini relatif lebih mudah dan lebih cepat dilakukan.
Ø  Pengamat berperan sebagai pengamat (complete participant as observer)
Pada pengamatan jenis ini status pengamat selaku peneliti diketahui para pelaku yang menjadi objek penelitian.
            Berdasarkan cara pengamatan dilakukan, metode observasi dibagi dua jenis, yaitu:
1.      Observasi Tidak Berstruktur
Pada observasi yang tidak berstruktur, tidak ada suatu ketentuan mengenai apa yang harus diamati oleh pengamat. Sebelum mulai mengumpulkan data, pengamat juga tidak mempunyai format pencatatan atau ketentuan baku tentang cara-cara pencatatan hasil pengamatan. Observasi ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian antropologi ataupun dalam penelitian yang sifatnya eksploratori.
2.      Observasi Berstruktur
Pada observasi berstruktur, apa yang hendak diamati telah direncanakan peneliti secara sistematis, sehingga isi pengamatan lebih sempit dan lebih terarah disbanding isi observasi tidak berstruktur. Dalam mengumpulkan data, peneliti berpedoman kepada format pencatatan atau ketentuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
            Berdasarkan langsung atau tidaknya pengamatan dilakukan, metode observasi dibagi:
1.      Observasi Langsung (Direct Observation)
Pada observasi ini, observer langsung mengamati perilaku observee.
2.      Observasi Tidak Langsung (Indirect Observation)

Dalam observasi tidak langsung, observer mengamati perilaku observee secara tidak langsung, misalnya melalui rekaman video atau foto yang diambil oleh orang lain.

 Teknik Observasi
            Ada tiga jenis teknik pokok dalam observasi yang masing-masing umumnya cocok untuk keadaan-keadaan tertentu, yaitu:
1. Observasi Partisipan
Suatu observasi disebut observasi partisipan jika orang yang rnengadakan observasi (observer) turut ambil bagian dalam perikehidupan observer. Jenis teknik observasi partisipan umumnya digunakan orang untuk penelitian yang bersifat eksploratif. Untuk menyelidiki satuan-satuan sosial yang besar seperti masyarakat suku bangsa karena pengamatan partisipatif memungkinkankan peneliti dapat berkomunikasi secara akrab dan leluasa dengan observer, sehingga memungkinkan untuk bertanya secara lebih rinci dan detail terhadap hal-hal yang akan diteliti.  
2. Observasi Sistematik (Observasi Berkerangka)
Observasi sistematik biasa disebut juga observasi berkerangka atau structured observation. Ciri pokok dari observasi ini adalah kerangka yang memuat faktor-faktor yang telah di atur kategorisasinya lebih dulu dan ciri-ciri khusus dari tiap-tiap faktor dalam kategori-kategori itu.
a. Materi Observasi
Isi dan luas situasi yang akan diobservasi dalarn observasi sistematik umumnya lebih terbatas. Sebagai alat untuk penelitian desicriptif, peneliti berlandaskan pada perumusan-perumusan yang lebih khusus. Wilayah atau scope observasinya sendiri dibatasi dengan tegas sesuai dengan tujuan dan penelitian, bukan situasi kehidupan masyarakat seperti pada observasi partisipan yang umumnya digunakan dalam penelitian eksploratif.
Perumusan-perurnusan masalah yang hendak diselidikipun sudah dikhususkan, misalnya hubungan antara pengikut, kerjasama dan persaingan, prestasi be1aar, dan sebagainya. Dengan begitu kebebasan untuk memilih apa yang diselidiki sangat terbatas. Ini dijadikan ciri yang membedakan observasi sistematik dan observasi partisipan.


b. Cara-Cara Pencatatan
Persoalan-persoalan yang telah dirumuskan secara teliti memungkinkan jawaban-jawaban, respons, atau reaksi yang dapat dicatat secara teliti pula. Ketelitian yang tinggi pada prosedur observasi inilah yang memberikan kemungkinan pada penyelidik untuk mengadakan “kuantifikasi” terhadap hasil-hasil penyelidikannya. Jenis-jenis gejala atau tingkah laku tertentu yang timbul dapat dihitung dan ditabulasikan. Ini nanti akan sangat memudahkan pekerjaan analisis hasil.
3. Observasi Eksperimental
Observasi dapat dilakukan dalam lingkup alamiah/natural ataupun dalam lingkup experimental. Dalam observasi alamiah observer rnengamati kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa dan perilaku-perilaku observee dalam lingkup natural, yaitu kejadian, peristiwa, atau perilaku murni tanpa adanya usaha untuk mengontrol.
Observasi eksperimental dipandang sebagai cara penyelidikan yang relatif murni, untuk menyeidiki pengaruh kondisi-kondisi tertentu terhadap tingkah laku manusia. Sebab faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkah laku observee telah dikontrol secermat-cermatnya, sehingga tinggal satu-dua faktor untuk diamati bagaimana pengaruhnya terhadap dimensi-dimensi tertentu terhadap tingkah laku.
            Ciri-ciri penting dan observasi eksperimental adalah sebagai berikut :
• Observer dihadapkan pada situasi perangsang yang dibuat seseragam mungkin untuk semua observee.
            • Situasi dibuat sedemikian rupa, untuk memungkinkan variasi timbulnya tingkah laku yang akan diamati oleh observee.
            • Situasi dibuat sedemikian rupa, sehingga observee tidak tahu maksud yang sebenannya dan observasi.
            • Observer, atau alat pencatat, membuat catatan-catatan dengan teliti mengenai cara-cara observee mengadakan aksi reaksi, bukan hanya jumlah aksi reaksi semata.
4. Observasi NonPartisipan
Dalam hal ini peneliti berada di luar subyek yang diamati dan tidak ikut dalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Dengan demikian peneliti akan lebih leluasa mengamati kemunculan tingkah laku tersebut.


Keunggulan Observasi
Metode observasi memiliki sejumlah keunggulan , di antaranya adalah:
a.                   Menyajikan media obyek secara nyata tanpa manipulasi
b.                  Mudah pelaksanaannya
c.                   Tidak bergantung kepada self-report
d.                  Memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya sesuatu gejala
e.                  Data yang dikumpulkan dari teknik observasi ini cenderung mempunyai keandalan yang tinggi karena langsung dari sumbernya
f.                    Melalui observasi, pengamat dapat mengidentifikasikan dan menggambarkan lingkungan fisik dari kegiatan penelitian yang berlangsung
g.                   Mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang konteks yang akan diteliti
h.                 Memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada pembuktian dan mempertahankan pilihan untuk mendekati permasalahan secara induktif
i.                     Mendapatkan informasi yang tidak disadari oleh subjek peneltiian
j.                    Mendapatkan data-data yang tidak terungkap melalui wawancara.

Kelemahan Observasi
Metode observasi memiliki sejumlah kelemahan, di antaranya adalah:
a.                   Memerlukan waktu persiapan yang lama
b.                  Memerlukan biaya dan tenaga yang lebih besar dalam pelaksanaannya
c.        Obyek yang diobservasi akan menjadi sangat kompleks ketika dikunjungi dan mengaburkan tujuan pembelajaran.
d.                  Terbatasi oleh lamanya kelangsungan kejadian yang bersangkutan.
Menurut Djumhur dan Moh. Surya observasi juga mempunyai kelemahan - kelemahan, yaitu:
·           Banyak data pribadi yang tidak terungkap, misalnya kehidupan pribadi yang rahasia
·     Memungkinkan terjadi ketidak-wajaran apabila yang diobservasi mengetahui bahwa dirinya sedang diobservasi
·          Observasi banyak tergantung dari faktor yang tidak terkontrol
·          Subjektifitas observer sukar dihindarkan.
Upaya-upaya mengatasi kelemahan dalam observasi yaitu :
·         Data-data yang belum terungkap bisa kita resume guna menambah kelengkapan data yang akan kita gunakan. Setelah data-data yang teresume tersebut sudah selesai kita bisa meminta bantuan misalnya dari keluarga, teman-temannya, sahabat dekatnya.
·          Sebagai seorang peneliti harus benar-benar bisa menjaga kerahasiaan dirinya, ini dimungkinkan jika terjadi hal yang tidak diinginkan, misalnya jika identitas observer terbongkar maka pihak yang diteliti merasa tidak nyaman dan akan menghindar dari penelitian yang dilakukan observer yang nantinya akan menghambat proses observasi

Tes Kepribadian

Selasa, 06 Mei 2014

                                              Tes Tes Kepribadian
Sebelum mengenal apa saja yang termasuk ke dalam tes- tes kepribadian. Kita harus tau apa itu kepribadian tsb.
Kepribadian?
Kata personality dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani kuno prosopon atau persona, yang artinya 'topeng' yang biasa dipakai artis dalam theater. Para artis itu bertingkah laku sesuai dengan ekspresi topeng yang dipakainya, seolah-olah topeng itu mewakili ciri kepribadian tertentu. Jadi konsep awal pengertian personality (pada masyarakat awam) adalah tingkah laku yang ditampakkan ke lingkungan sosial- kesan mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkap oleh lingkungan sosial.
Definisi kepribadian :
1. Kepribadian adalah nilai sebagai stimulus sosial, kemampuan menampilkan diri secara mengesankan (Hilgard & Marquis)
2. Kepribadian adalah kehidupan seseorang secara keseluruhan, individual, unik, usaha mencapai tujuan, kemampuannya bertahan dan membuka diri, kemampuan memperoleh pengalaman (Stern)
3. Kepribadian adalah organisasi dinamik dalam sistem psikofisiologik seorang yang menentukan model penyesuaiannya yang unik dengan lingkungannya (Allport)
4. Kepribadian adalah pola trait-trait yang unik dari seseorang (Guilford)
5. Kepribadian adalah seluruh karakteristik seseorang atau sifat umum banyak orang yang mengakibatkan pola yang menetap dalam merespon suatu situasi (Pervin)
6. Kepribadian adalah seperangkat karakteristik dan kecenderungan yang stabil, yang menentukan keumuman dan perbedaan tingkah laku psikologik (berpikir, merasa, dan gerakan) dari seseorang dalam waktu yang panjang dan tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai hasil dari tekanan sosial dan tekanan biologic saat itu (Mandy atau Burt)
7. Kepribadian adalah suatu lembaga yang mengatur organ tubuh, yang sejak lahir sampai mati tidak pernah berhenti terlibat dalam pengubahan kegiatan fungsional (Murray)
8. Kepribadian adalah pola khas dari fikiran, perasaan, dan tingkah laku yang membedakan orang satu dengan yang lain dan tidak berubah lintas waktu dan situasi (Phares)



Tes Kepribadian adalah yang mengukur tentang Aspek psikologis :
mengungkap kepribadian secara luas, aspek kognitif, afektif, emosional dan aspekaspek
lainnya.
a. Teknik non proyektif
Tes kepribadian yang objektif, : EPPS ( Edwards Personal Preference
Schedule), MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory), 16 PF dan
CAQ (Clinical Analysis Questionnaire)
b. Proyektif
Tes kepribadian proyektif Misalnya:TAT (Thematic Apperception Test ), Grafis,
Wartegg, SSCT , tes bercak tinta Rho.

Sekilas ttg MMPI (Non Proyektif)
Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) diterbitkan pada tahun 1940. Perancang MMPI adalah R. Starke Hathaway , PhD, dan JC McKinley , MD. MMPI merupakan hak cipta dari University of Minnesota. MMPI dikembangkan pada tahun 1930 di Universitas Minnesota sebagai tes kepribadian yang komprehensif dan serius yang dapat digunakan untuk mendeteksi masalah kejiwaan.
Tes MMPI adalah sebuah alat tes inventori yang berisi banyak pertanyaan dengan option “ya” dan “tidak”, tujuannya adalah untuk mengetahui kepribadian seseorang, terutama gangguan-gangguan psikologis yang ada di dalam diri seseorang, seperti gangguan anti sosial, gangguan seksual, gangguan depresi, kehohongan, Dan sebagainya.

Tes Roschach (Proyektif)
Klopfer (1962) : teknik Rorschah merupakan puncak keberhasilan dari penelitian sebelumnya.
Hal yang membedakan dengan penelitian sebelumnya:
 Ahli sebelumnya hanya menganalisa bercak tinta dari segi isi dan respon serta imajinasi sedangkan Roschah berdasarkan fungsi persepsi karena imajinasi hanya berperan sedikit. Persepsi adalah proses asosiasi yang integratif antara gambaran-gambaran ingatan dengan penginderaan sehingga terjadi tigaproses: sensasi, memori, asosiasi.
 Yang dipentingkan Roschah bukan aspek dari isi jawabanm tetapi juga aspek formail dan strukturil yaitu menekankan utnuk memahami bagaimana seseorang memandang bercak tinta, bukan apa isi dari responnya. Kemudian Rorchah mengolah respon subjek dalam kategori-kategori analisa yang dikenal dengan kategori-kategori skoring.
DASAR PEMIKIRAN TES RORSCHAH
1. Asumsi
 Ada hubungan antara persepsi dengan kepribadian
2. Bercak tinta
 Ambigous dan unstructured, yaitu persepsi personal, spontan dan tidak dipelajari.
3. Tujuan utama
 Mendeskripsikan kepribadian seseorang secara keseluruhan (Gestalt)
Contoh tes Roschach :


Edward Personal Preference Schedule
Merupakan tes yang disusun oleh konsep manifest dari Henry Murray pada tahun 1958 dan direvisi 1959.
EPPS mengukur 15 variabel. Merupakan tes kepribadian yang pertama sebagai alat riset dan konseling, yang cepat dan mudah dalam mengukur sejumlah variable.
Contoh EPPS : 

Thematic Appreciation Test
TAT merupakan singkatan dari Thematic Appreciation Test. TAT adalah sebuah test yang dilakukan untuk mengetahui kognitif atau gambaran kepribadian secara umum dari seorang. Dan yang diteliti di sini, adalah pengukuran yang dibutuhkan dalam sebuah pemberian nilai dari test ini. Dengan berbagai macam perhitungan, kita bisa mengetahui alat ukur yang digunakan untuk menghitung, bahkan mampu menarik sebuah kesimpulan, dalam menentukan kepribadian dan kognitif seseorang secara umum.
Metode dengan menggunakan dengan kartu bergambar seukuran 4 X 6 inchi. Diberikan masing – masing, pria dan wanita, 5 jenis kartu yang berbeda dan 1 kartu kosong. Partisipan berjumlah 1619 yang diambil secara acak dari 2460 inteviewee. Mereka akan diberikan waktu untuk menceritakan arti kartu bergambar tersebut, secara lisan, detail dengan emosi yang mendalam (mendramatisir).
Hasilnya, berdasarkan deskriptif statistik, menunjukkan alat ukur yang digunakan, mampu menunjukkan skor yang tinggi. Ini berarti penggunaan TAT dengan pengukuran untuk menhitung angka jumlah berkorelasi dengan baik. Kepribadian secara umum dapat terlihat sesuai data yang ada.



Daftar Pustaka
Groth-Marnat, Gary.(2003). Handbook of psychological assessment 4th edition. United States : John Wiley & Sons, Inc
Feist & Feist. (2009). Theories Of Personality -Seventh Edition. Boston : The McGraw−Hill Companies.

Anastasi, A., Urbina, U. (2007). Tes Psikologi (Edisi Ketujuh). Indonesia: PT Indeks

Tes Populasi Khusus

Rabu, 23 April 2014

                                                
                                                                                Tes  untuk Populasi Khusus
Tes ini dikembangkan untuk digunakan pada orang- orang yang tidak bisa diuji dengan cara biasa atau secara memadai dengan instrument tradisional, misalnya skala-skala individual atau tes-tes kelompok.
Empat kategori utama bisa dikenal dari sudut pandang : tes – tes untuk tingkat bayi dan tingkat prasekolah ; tes – tes yang digunakan untuk penaksiran komprehensifnatas orang – orang yang mentalnya terbelakang ; tes – tes untuk orang dengan aneka ragam kekurangan indrawi dan motorik , dan tes – tes yang dirancang untuk digunakan melintasi berbagai kultur atau subkultur.
1.       A.    Pengetesan Bayi dan Anak-Anak Prasekolah
Sejumlah anak taman kanak-kanak bisa di tes dalam kelompok-kelompok kecil dengan jenis tes yang disusun untuk tingkat-tingkat dasar. Kebanyakan tes untuk anak-anak dibawah umur 6 tahun adalah tes kinerja atau tes lisan. Sedikit tes saja yang menuntut pemakaian dasar kertas dan pensil. Lazim untuk membagi lima tahun pertama menjadi masa bayi dan masa prasekolah.
o    Sejak lahir sampai umur mendekati 18 bulan
o    Dari 18 sampai 60 bulan
Dari sudut pandang penyelenggaraan tes, seharusnya diperhatikan juga bahwa seorang bayi harus tes sambil tiduran, dipangku oleh seseorang atau digendong. Banyak dari tes-tes ini menyangkut perkembangan sensori-motori, seperti didemonstrasikan oleh kemampuan bayi mengangkat kepala, berbalik, meraih dan memegang objek, dan mengikuti objek yang bergerak dengan matanya. Di pihak lain, anak prasekolah bisa berjalan, duduk di meja, menggunakan tangannya untuk memanipulasi objek tes, dan berkomunikasi dengan bahasa. Pada tingkat prasekolah, anak itu juga jauh lebih responsif terhadap penguji sebagai pribadi, sementara untuk bayi si penguji pertama-tama berfungsi untuk menyediakan objek stimulus. Pengetesan prasekolah adalah proses yang jauh lebih antarpribadi (segi yang menambah, baik kesempatan maupun kesulitan yang disajikan oleh situasi tes).
Skala-skala khusus yang diranjang untuk anak-anak dan masa kanak-kanak awal serta mewakili berbagai pendekatan:
o    Skala Wechsler
o    Skala Stanford-Binet
o    Skala Kaufman
o    Skala kemampuan diferensial
Skala-skala ini digunakan dalam penilaian anak-anak prasekolah, karena tes-tes ini mencakup masa 2 sampai 6 tahun selain untuk umur-umur lebih tua.
o    Latar Belakang Sejarah Pengetesan Bayi dan Anak-Anak Prasekolah
Salah satu dari usaha-usaha sistematik paling awal untuk memahami perkembangan anak-anak bayi normal dan prasekolah dibuat dalam serangkaian studi longitudinal oleh Arnold Gesell dan rekan-rekannya di Yale (Ames, 1989). Telaah-telaah ini, yang seluruhnya memakan waktu emapat dasawarsa. (Gesell et al, 1940) merupakan usaha rintisan untuk memberikan metode yang sistematis dan empiris untuk menaksir perkembangan perilaku anak-anak kecil. Kebanyakan data diperoleh melalui observasi langsung atas respons-respons anak terhadap mainan standar dan objek-objek stimulus lain serta dilengkapi dengan informasi yang disedikan oleh orang tua atau pengasuh utama lainnya.
Dasawarsa 1960-an sampai 1990-an tampak adanya kebangkitan minat terhadap tes untuk bayi dan anak-anak prasekolah. Faktor yang beperan dalam kebangkitan minat ini adalah:
o    Perluasan cepat program-program pendidikan untuk anak-anak yang keterbelakangan mental
o    Perkembangan luas program-program prasekolah dari pendidikan kompensatoris untuk anak-anak yang secara kultural tidak beruntung
o    Serangkaian mandat legislatif yang ditujukan pada identifikasi dan remediasi secara dini semua jenis ketidakmampuan jasmani dan mental, baim pada anak-anak prasekolah maupun pada bayi.
o    Tes-Tes yang Dibakukan Untuk Perkembangan Masa Kanak-Kanak Awal

Mengetes Penyandang Cacat Jasmani
Syarat  pendidikan yang  sesuai untuk semua anak cacat  jasmani di cakup oleh Indivuduals with Disabilities Education Act. Syarat-syarat Civil Rights umum yang   dimandatkan untuk minoritas lain di perluas untuk mencakup orang–orang yang memiliki             ketidak mampuan jasmani. Perundangan ini melarang dalam bisang-bidang pendidikan  praktik memeprkerjakan orang, akses pada fasilitas jasmani, pendidikan prasekolah, dasar dan menengah,pendidikan menengah atau, kesehatan, kesejahteraan, dan pelayanan social. Jalan utama untuk menangani tes semacam itu meliputi (1) modifikasi medium pengetesan, batas waktu, dan isi tes yang ada; (2) penilaian klinis yang disesuaikan dengan individu bersangkutan, yang memadukan skor-skor  tes dengan sumber-sumber data lain dari sejarah biografis, wawancara dan penilaian atas pengamat kehidupan sehari-hari yang mendapat informasi secukupnya.
Educational Testing Service menggunakan versi standard dan nonstandard dari College Board SAT dan GRE General Tes dengan empat kelas pelamar cacat, yaitu  kerusakan pendengaran, kerusakan penglihatan, ketidakmampuan belajar dan kerusakan fisik (Willingham, et al., 1988). Karaketiristik-karakteristik psikometris yang diselidiki mencakup reliabilitas, fungsi soal diferensial, struktur factor, dan indeks-indeks validitas lain terkait dengan tingkat kinerja dan kekuatan prediksi; isi tes, penentuan waktu, dan akomodasi. Masalah-masalah dan prosedur pengetesan khusus dengan rujukan pada tiga   kategori utama ketidakmampuan jasmani, yaitu penedengaran, penglihatan, dam motorik.
            Kerusakan Pendengaran
Anak-anak dengan kerusakan pendengaran biasanya di rugikan oleh tes-tes  verbal dan bila isi verbal dipresentasikan secara visual. Tetapi dengan kemajuan akhir-akhir     ini penialian fungsi pendengaran telah mendiagnosis kerusakan pendengaran secara akurat dan memulai pemulihan saat bayi berusia beberapa bulan (Shah & Boyden, 1991). Pengetesan anak-anak tuna rungu adalah sasaran primer dalam pengembangan skala kinerja paling awal, seperti Pintner-Paterson Perfomance Scale dan Arthur Performance Scale. Tes  verbal digunakan jika pertanyaan lisan diketik pada kartu. Pada tingkatan yang lebih dasar,           Hiskey-Nebraska Test of Learning Aptitude (Hiskey, 1966) dikembangkan dan dibakukan pada anak-anak tuli dan sulit mendengar. Ini tes individual yang cocok untuk umur 3 sampai 17. Hiskey-Nebraska memiliki reliabilitas dan bukti validitas memadai dan dipandang sebagai salah satu tes terbaik untuk digunakan pada anak-anak kerusakan pendengaran (Sullivan & Burley, 1990).
            Kerusakan Penglihatan
Teknik-teknik pengetesan lain yang sesuai telah digunakan, misalnya dengan tape recorder. Tes-tes seperti College Board Scholastic Assessment Test (SAT) juga dalam format tipe besar atau huruf Braille. Contoh paling awal tentang tes intelegensi umum yang tealh di adaptasi untuk para tunanetra adalah tes binet. Profil Wechsler atas anak-anak dengan kerusakan penglihatan telah menunjukkan pola yang sama melintasi berbagai telaah; hasilnya menunjukkan bahwa komposisi factorial tugas berbeda untuk mereka disbanding untuk anak penglihatan normal. Meskipun IQ tak dianggap sebagai ukuran akurat seluruh fungsi kognitif anak dengan kerusakan penglihatan, dalam tangan penguji skala Wechsler bias menyediakan informasi diagnostic yang berguna dengan kekuatan dana kelemahan anak-anak. Untuk anak-anak kerusakan penglihatan mempunyai contoh terbaik yaitu Blind      Learning Aptitude test (BLAT), adalah tes yang diselenggarakan secara individual, yang memasukkan soal-soal yang diadaptasi tes-tes lain, misalnya Raven’s Progressive Matrices, dan soal-soal nonverbal lain, serta mempresentasikannya dalam suatu formal yang timbul.
            Kerusakan Motorik
Ketidakmampuan motorik yang parah ditemukan di antara orang-orang dengancerbol palsy yang menggunakan tes intelegensi umum seperti Stanford-Binet. Berbagai tes     yang dibahas pada awalnya dirancang untuk digunakan dalam pengetesan silang-budaya,   juga dapat diterapkan pada orang-orang tidak mampu secara motorik. Adaptasi Leiter International Performance Scale dan Porteus Mazes untuk anak-anak celebral palsy, (Allen & Collins, 1955; Arnold, 1951). Jenis tes lain yang memungkinkan penggunaan respons     dengan menunjuk adalah tes kosakata bergambar. Tes ini memberikan ukuran cepat atas kosakata “penggunaan” yang membuat tes itu dapat diterapkan, terutama pada orang-orang yang tidak mampu membuat vokalisasi dengan baik dan para tuna rungu. Prosedur yang sama dari pengadaan tes di gabungkan dalam tesklasifikasi bergambar, sebagaimana    diilustrasikan oleh Columbia Mental Maturity Scale (CMMS-Burgermeister, Blum & Lorge, 1972). Data ekstensif tentang validitas dan kemampuan aplikasi CMMS pada berbagai kelompok individu penyandang cacat sudah tersedia untuk bentuk awal test ini. Akan tetapi,   karena norma-normanya sudah kadaluwarsa dan rentang penaksiran kemampuan yang         sempit kemampuan aplikasi CMMS agak terbatas.
l  Pendekatan pada Pengetesan Lintas – Budaya
o    Pendekatan pertama menyangkut pilihan soal yang umum bagi banyak budaya yang berbeda dan validasi tes yang dihasilkan menurut kriteria lokal dalam banyak budaya yang berbeda.
o    Pendekatan kedua adalah mengembangkan tes dalam satu budaya dan menjalankan untuk orang dengan latar belakang budaya yang berbeda. Kita seharusnya menghindari kesalahan karena memandang tes apapun yang dikembangkan dalam kerangka kultural tunggal sebagai tongkat pengukur universal unutk mengukur ‘intelegensi’ atau konstruk – konstruk lainnya. Yang bisa dipastikan dengan pendekatan semacam ini adalah jarak kultural antara kelompok – kelompok, dan juga derajat akulturasi seseorang serta kesiapannya unutk aktivitas pendidikan dan pekerjaan yang spesifik untuk budaya tertentu.
o    Pendekatan ketiga adalah berbagai tes yang berbeda (adaptasi substansial tes – tes yang ada) bisa dikembangkan dalam budaya, divalidasikan menurut kriteria lokal dan digunakan hanya dalam  budaya yang sesuai.
Tiap tes diterapkan hanya dalam budaya dimana tes itu dikembangkan dan tak diusahakan perbandingan lintas – budaya apapun.
Pengetesan multikultural bergerak menjauh dari penyusunan tes – tes khusus dan lebih dan lebih berfokus pada peran penguji selama proses pengetesan. Pada dasarnya, tanggung jawab penguji  untuk :
untuk  memperoleh informasi tentang latar belakang kultural orang yang di tes.
untuk Memilih tes yang paling cocok dengan maksud penggunaan tes.
untuk  Menyajikan dan meyelengarakan tes secara efektif untuk individu – individu tertentu.
untuk  Menginterpretasikan hasil – hasil tes dilihat dari segi latar belakang dan konteks pengalaman individu(pekerjaan, pendidikan, komunitas dan sebagainya).

Sumber :

Anastasi, A., Urbina, U. (2007). Tes Psikologi (Edisi Ketujuh). Indonesia: PT Indeks

Tes Kemampuan Mental

Senin, 31 Maret 2014

                                                                             Tes Kemampuan Mental
Tes kemampuan mental atau Mental Ability Test.
Sebelum kita ke alat tesnya. Mari kita bahas tentang Mental Ablities tsb.
Apa itu Mental Abilties?
-          Kemampuan untuk menampilkan/ memperlihatkan proses mental yang lebih tinggi seperti memberi alasan ( Reasoning), memahami (Understanding) dan Problem Solving (memecahkan masalah).
 Banyak psikolog- psikolog menyatakan bahwa intelegensi adalah proses mental yang lebih tinggi.
Intelegensi?
Alfred Binet,
inteligensi terdiri dari tiga komponen, yaitu
      kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan,
      kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan itu telah dilaksanakan,
      dan kemampuan untuk mengritik diri sendiri (autocriticism).
Thurstone (1938) “Primary Mental Abilities”,
-Berbahasa
-Mengingat
-Berfikir
-Analisis Ruangan
-Bilangan
-Menggunakan kata-kata
-mengamati dengan cepat dan cermat
A brief history of IQ test.
-          Binet mengembangkan tes intelegensi u/ mengidentifikasi anak-anak berkebutuhan khusus. Didalamnya terdapat pertanyaan- pertanyaan tentang Reasoning, Problem solving dengan berbagai tingkat kesulitan.
-          Terman mengembangkan revisi dari tes Binet yang dikenal dengan “Stanford – Binet). Disalamnya terdapat item-item yang menggambarkan intelegensi orang dewasa maupun anak-anak. Menjadi model tes IQ.
-          Weschler memperbaiki tes-tes sebelumnya. Tes ini termasuk didalamnya subtes-subtest yang termasuk verbal konten.
IQ test Today
-          Di sekolah-sekolah, tes Stanford-Binet paling sering digunakan.
-          A person Intelegence Quotient – IQ Score – Menggambarkan sejauh mana performa seseorang dalam tes dari rata-rata performa orang yang berada dalam grupnya.
Evaluating IQ test
-          A person’s IQ score itu selalu berubah setiap tahun, tapi merefleksikan perubahan kemampuan.
-          Selain itu, IQ Test adalah tes yang reliable, yang biasa diuji kembali. Dan menjadi good predictor untuk kehidupan akademisi.
-          Bagaimanapun, IQ test menilai hanya beberapa kemampuan yang mungkin menggambarkan aspek-aspek dari intelegensi
Intelegence and the Diversity of Mental Abilities :
-          Pendekatan Psikometri
Pendekatan Psikometri  menganalisa struktur dari intelegensi dengan menguji hubungab antara test dengan kemapuan mental.
Karena skor di hampir semua tes kemampuan mental berhubungan (positively correlated), Spearman menyimpulkan bahwa semua dari test ini mengukur  General factor- factor dari kemampuan mental yang disebut G-factor.
Penelitian lainnya menyimpulkan bahwa intelegensi bukanlah trait tunggal. Seperti terlihat bahwa g-factor merefleksikan kumpulan-kumpulan dari subskills dan kemampuan mental yang mengharuskan mendapat nilai yang bagus di semua tes intelegensi.
-          Pendekatan Pemrosesan Informasi
Pemrosesan Informasi fokus terhadap proses dimana perilaku intelegensi dibuat
Korelasi positif yang ditemukan antara skor IQ dan ukuran dari fleksibilitas dan kemampuan memperhatikan, dan diantar skor IQ dan pengukuran kecepatan pemrosesan informasi.
Menurut Sternberg, Berfikir menggunakan intelegensi melibatkan tiga jenis proses mental
a)      Meta-komponen (Metacomponents), yaitu proses-proses eksekutif yang lebih tinggi tingkatannya (seperti metakognisi) yang digunakan untuk merencanakan, memonitor dan mengevaluasi pemecahan masalah.
b)      Komponen-komponen performa (Performance), yaitu proses-proses di tataran yang lebih rendah yang digunakan untuk mengimplementasikan perintah-perintah dari meta-komponen.
c)      Komponen akuisisi pengetahuan (Knowledge-acquisition components), yaitu proses-proses yang digunakan untuk mempelajari cara menyelesaikan masalah.

Dan juga Teori Triarki, kecerdasan manusia mencakup tiga aspek, yaitu hubungan dengan : (1) Dunia Internal, (2) Pengalaman, (3) dunia eksternal individu.
-          Multiple Intelegence
-           Gardner’s Multiple Intelligences
-          1. Verbal-linguistic intelligence (well-developed verbal skills and sensitivity to the sounds, meanings and rhythms of words)
-          2. Logical-mathematical intelligence (ability to think conceptually and abstractly, and capacity to discern logical and numerical patterns)
-          3. Spatial-visual intelligence (capacity to think in images and pictures, to visualize accurately and abstractly)
-          4. Bodily-kinesthetic intelligence (ability to control one’s body movements and to handle objects skillfully)
-          5. Musical intelligences (ability to produce and appreciate rhythm, pitch and timber)
-          6. Interpersonal intelligence (capacity to detect and respond appropriately to the moods, motivations and desires of others)
-          7. Intrapersonal (capacity to be self-aware and in tune with inner feelings, values, beliefs and thinking processes)
-          8. Naturalist intelligence (ability to recognize and categorize plants, animals and other objects in nature)
-          9. Existential intelligence (sensitivity and capacity to tackle deep questions about human existence such as, What is the meaning of life? Why do we die? How did we get here?
-          (Source: Thirteen ed online, 2004)

-          Creativity
-
J.P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan
-          Sedangkan tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen

Motivation
1.     Definisi : Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.(Mitchell, T. R. Research in Organizational Behavior. Greenwich, CT: JAI Press, 1997, hal. 60-62.)

Sources of Motivation
Terdapat 4 kategori
-          Biological Factors – contohnya : kebutuhan akan makanan, air, temperature dll
-          Cognitive Factors – orang-orang sering berperilaku di macam-macam cara karena apa yang mereka pikir itu mungkin dan dapat dilakukan dan karena bagaimana mereka mengantisipasi orang lain akan bereaksi seperti apa.
-          Emotional Factors – Panik, Takut, Marah, Cinta dan emosi lainnya bisa membuat seseorang melakukan apa yang melibatkan emotional factor tsb. Contoh : Kemarahan dapat membuat seseorang menjadi pembunuh.
-          Social Factors –Orang-orang berinteraksi dengan orangutan, saudara, teman, guru, tv, dan lainnya. Semua pengaruh dari Social Factor memberikan efek disetiap aspek dari perilaku manusia.  

Theoretical perspective of Motivation
-          Instinct Theory – Menurut Freud, naluri atau insting adalah representasi psikologis bawaan dari eksitasi (keadaan tegang dan terangsang) pada tubuh yang diakibatkan oleh munculnya suatu kebutuhan tubuh.
-          Drive reduction Theory – Drive -reduction theory is an explanation for motivation that focuses on maintaining homeostasis, or a sense of equilibrium.
-          Arousal Theory – People are motivated to maintain an optimal level of arousal.
-          Incentive Theory –People are motivated to perform behaviors when they expect those behaviors to have outcomes that they value highly.








Lalu bagaimana mengukurnya?
1.    Tes Rorschach
Dalam psychodiagnostic tersebut Rorschach menulis bahwa dia telah menyeleksi satu seri bercak tinta yang terdiri dari 10 kartu dari beribu-ribu kartu yang telah dicobakan. Tidak semua pola yang dibuat dapat diuji cobakan, paling tidak harus memenuhi 2 persyaratan, yaitu:
  • Bentuk gambar tersebut relatif simpel.Distribusi 
  • bercak harus memenuhi persyaratan komposisi tertentu.
Subjek eksperimen Rorschach sebagian besar memang adalah para penyandang masalah kejiwaan. Tetapi Rorschach juga menggunakan subjek orang-orang normal, baik yang berpendidikan maupun tidak berpendidikan.
Menurut Klopfer (1962) tekniik bercak tinta yang disusun oleh Rorschach merupakan titik puncak keberhasilan dari peneliian-penelitian yang menggunakan bercak tinta selama 20 tahun di Eropa dan Amerika. Rorschach berhasil menerobos aspek-aspek yang belum pernah dijangkau oleh peneliti-peneliti lain. Kalau ahli-ahli sebelumnya kebanyakan hanya menganalisa bercak tinta dari segi isi dari respon subjek saja, dan mengatakan bahwa bercak tinta yang diberikannya itu adalah tes imajinasi, tetapi menurut Rorschach dalam membuat interpretasi terhadap bercak tinta itu sebenarnya fungsi imajinasi hanya sedikit. Yang paling berperan adalah fungsi persepsi (Rorschach, 1981).
Rorschach lebih menekankan untuk memahami bagaimana seseorang menghayati sesuatu, kurang mementingkan apa isi penghayatannya. Kalau ada orang yang mengalami ketakutan, atau kecemasan, bukan isi ketakutan atau kecemasan itu yang dilihat, tetapi bagaimana dia mengahayati kecemasan itu sebagai suatu gejala psikologis, bagaimana hubungannya dengan fungsi-fungsi psikologis yang lain.
Bruno Klopfer mengembangkan tes Rorschach. Pada tahun 1934 telah mengembangkan ide-ide Rorschach dalam kelompok studinya. Pada tahun 1936 Klopfer dkk mendirikan Rorschach Institute sebagai lembaga melatih para para ahli untuk menggunakan tes Rorschach. Pada tahun 1948 Rorschach Institute berubah menjadi The Society for Projective Technique, yang menerbitkan TAT (Thematic Apperception Test) dan tes proyektif lainnya.
Selain itu banyak alat tes yang juga menggunakan teknik bercak tinta, yang dikembangkan untuk menutupi kelemahan-kelemahan tes Rorschach, seperti misalnya :
1.    Bero yang dirancang sebagai tes Rorschach untuk anak-anak 
2.    Zullinger Test (Z – test) dirancang dengan menggunakan 3 kartu bercak tinta yang lebih kompleks 
3.    Group Rorschach, yaitu pelaksanaan administrasi tes Rorschach secara klasikal, pertama kali di rintis oleh Harrower dan Steiner dengan memproyeksikan bercak tinta menggunakan tinta lewat slide. Juga di kembangkan jawaban yang multiple choice 
4.    Holtzman Ink Blot Technique, dirancang oleh Holtzman untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan metodologi dan tes Rorschach 
5.    Piotrowski’s Automated Rorschach (PAR), dirancang oleh Piotrowski pada tahun 1974 dengan menggunakan computer untuk skoring dan intepretasinya.
Penerapan tes Rorschach sebagian besar di bidang klinis, baik di rumah sakit maupun di klinik psikiatris dan psikologis. Tetapi tes Rorschach juga bisa menjadi terapi, ada testi yang mengatakan ketika selesai menjalani tes ini testi merasa lega dan hilang beban pikiran dan emosionalnya.
Teknik Rorschach juga banyak digunakan di luar bidang klinis. Misalnya di bidang militer dan industri, tes Rorschach banyak digunakan sebagai alat seleksi. termasuk pengguna tes Rorschach secara kelompok (Williams & Kellman, 1962).

2.            Weschler Adult Intelligence Scales
Test Wechsler mula-mula diterbitkan pada tahun 1939 dengan nama Wechsler – Bellevue Intelligence Scale (Biasa di singkat W – B) dan revisinya diterbitkan tahun 1955 dengan nama Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS). Tes Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) adalah skala inteligensi Wechsler yang standar untuk mengukur potensi inteligensi subyek dewasa usia 16 tahun sampai 75 th atau lebih, yang penyajiannya secara individual. Untuk bisa menyajikan tes WAIS ini dengan baik, tester harus memahami dan melakukan petunjuk-petunjuk dalam manual tes ini dengan seksama dan teliti. 

Seperti dalam segala tes psikologis, penyajian WAIS secara layak meminta tester mampu menyelenggarakan dengan baik, bahan-bahan yang teratur, ruangan testing yang sesuai, dan waktu yang cukup. Tester harus seorang yang terlatih secara khusus dalam testing perseorangan pada umumnya maupun dalam menyajikan WAIS pada khususnya
SKALA VERBAL terdiri dari:
      Informasi
Berisi 29 pertanyaan pengetahuan umum.
      Rentang Angka
Berupa rangkaian angka antara 3 sampai 9 angka yang disebutkan secara lisan dan subjek diminta untuk mengulangnya dengan urutan yang benar.
      Kosa Kata
Mendefinisikan 40 kata-kata dari yang paling mudah sampai yang paling sulit.
      Hitungan
Berupa problem hitungan yang setaraf dengan soal hitungan di sekolah dasar.
      Pemahaman
Isi subtes ini dirancang untuk mengungkap pemahaman umum.
      Kesamaan
Berupa 13 soal yang menghendaki subjek untuk menyatakan pada hal apakah dua benda memiliki kesamaan.
Untuk SKALA PERFORMANSI adalah sebagai berikut:
      Kelengkapan Gambar
Menyebutkan bagian yang hilang dari gambar dalam kartu yang jumlahnya 21 kartu.
      Susunan Gambar
Berupa delapan seri gambar yang masing-masing terdiri dari beberapa kartu yang disajikan dalam urutan yang tidak teratur.
      Rancangan Balok
Terdiri atas suatu seri pola yang masing-masing tersusun atas pola merah-putih. Setiap macam pola diberikan di atas kartu sebagai soal.
      Perakitan Objek
Terdiri dari potongan-potongan lengkap bentuk benda yang dikenal sehari-hari yang disajikan dalam susunan tertentu.
      Simbol Angka
Berupa Sembilan angka yang masing-masing mempunyai simbolnya sendiri-sendiri. Subjek diminta menulis symbol untuk masing-masing angka di bawah deretan angka yang tersedia sebanyak yang dapat dia lakukan selama 90 detik.

Individuals with high scores may have an efficient ability plan ahead and maintain a flexible mental orientation, which further suggest an excellent ability to delay impulsive action (Ireland-Galman, Padilla&Michael,1980). Low scores reflect impulsivity and poor visual- motor coordination. Often, unusually low scores may suggest poor reality orientation or organic cerebral impairment, particularly to the frontal areas (Waugh &Bush,1971)  

3.     


Raven Test





 4.      Kaufman Adolescence and Adult Intelegence Test
       Tes ini dirancang untuk usia 11 hingga 85 tahun atau lebih.
       Tes ini menampilkan upaya untuk mengintegrasikan teori tentang inteligensi cair dan kristal.
        Skala yang dikristalisasikan mengukur konsep-konsep yang didapat dari proses sekolah dan akulturasi.
       Skala cairan mengukur kemampuan untuk menyelesaikan problem-problem baru.
       Soal-soal dalam tes ini cenderung menuntut semacam penyelesaian masalah dari pikiran operasional formal Piaget dan fungsi-fungsi evaluatif perencanaan

        Daftar Pustaka :
Groth-Marnat, Gary.(2003). Handbook of psychological assessment 4th edition. United States : John Wiley & Sons, Inc
Anastasi, A., Urbina, U. (2007). Tes Psikologi (Edisi Ketujuh). Indonesia: PT Indeks
Kaufman, Alan S. (1990). Assessing Adolescent and Adult Intelligence (first ed.). Boston: Allyn and Bacon.
Mitchell, T. R. (1997) Research in Organizational Behavior. Greenwich, England. CT: JAI Press
Kaufman,A.S., & Lichtenberger,E.O (2002). Assessing adolescent and adult intelligence (2nd ed.). Boston: Allyn & Bacon.
Exner,J. E. (2003). The Rorschach : A comprehensive system. Volume 1: Basic foundations.(4th ed). New york: Wiley.